Pulang ke Indonesia, another culture shock?

Beberapa minggu yang lalu kami pulang ke Indonesia, setelah hampir satu tahun tidak pulang. Rasa senengnya udah gak terkira deh, kenapa lagi kalo bukan kangen sama makanan di Indonesia, keramahan orang- orangnya dan services yang nyaman disini.

Tapi gak hanya karena itu, akhir tahun saya akan melahirkan anak kedua kami dan saya sama sekali gak ada niatan untuk melahirkan di Singapura. Alasannya kenapa bisa dibaca di postingan sebelumnya yaa

Selama ini saya secara pribadi, bahkan setelah menikah sudah terbiasa dengan pergi merantau ke berbagai negara. Tetapi kali ini kami sudah memantapkan diri untuk tinggal di Indonesia sampai anak- anak kami nanti sedikit lebih besar. Mau gak mau LDM (Long Distance Marriage) lagi deh dan saya atau suami yang bolak-balik.

Tapi, sesampainya saya di Indonesia, ternyata cukup satu tahun untuk bikin saya merasa nyaman sekaligus asing di negara sendiri. Beberapa hal yang bikin saya sedikit “kaget” dan culture shock adalah konsep gadget, terkhusus handphone luar negeri yang wajib di daftarkan dan di bayar pajaknya. Hari itu kami menuju gerai Telkomsel untuk membeli nomor handphone yang baru (disini kalau tidak isi pulsa atau tidak ada pemakaian selama 3 bulan, nomor tersebut akan hangus dan tidak bisa di pakai meski sudah di isi pulsa baru), dan kami menunggu sekitar 4 jam tapi sinyal tetap gak keluar. Akhirnya browsing dan baru tau lah kami kalau sejak 2020, pemerintah menetapkan wajib pajak dan registrasi IMEI handphone luar negeri saat sesampai di Indonesia melalui bea cukai bandara. Ada pembebasan sebesar USD500 untuk bawaan pribadi penumpang. Ada baiknya setelah mendarat dan saat mengisi form Bea Cukai kita ikut mendaftarkan hanbdphone tersebut untuk mendapatkan pembebasan pajak apabila sesuai kriteria. Kalau sudah keluar dari bandara, bea cukai memberikan kita 60 hari untuk daftar kalau engga gak bisa loh! Haduh repot banget.

Saat registrasi, saya memasukkan dua IMEI HP dan ternyata kena 2 juta dong hiksss, ternyata karena total hp terakumulasi nya bukan satu-satu ya. Sementara suami gratis karena hanya mendaftarkan 1 hp saja. Menurut saya ini proses yang sangat mahal dan merepotkan, kebayang gak kalo kita udah capek atau gak tinggal di Jakarta tapi harus kejar travel, bus atau kereta untuk sampai ke kota kita? Untuk TKI menurut saya harusnya yang seperti ini di bebaskan saja, mengingat mereka adalah pahlawan devisa negara. Masa disuruh bayar pajak HP, pdhl itu hp mau dipake secara pribadi loh. Walaupun saya tau juga dengan registrasi IMEI, pemerintah bisa lebih ketat untuk mengontrol gadget black market yang akan masuk ke Indonesia, gak hanya itu akan lebih banyak gadget yang di produksi dari dalam negeri. Tapi tetep aja ya, menurut saya itu sungguh ribet dan merepotkan. Yang pengen baca lebih lanjut mengenasi registrasi IMEI bisa baca disini ya

Hal lain yang saya agak canggung adalah berbagai cara pembayaran di Indonesia, salah satunya QRIS. Saya sampai bengong saat ditanya mau bayar pakai QRIS atau engga, karena jujur saya gak tau itu apa dan bagaimana! hahaha…setelah cari tau ternyata itu adalah sistem pembayaran secara digital dengan barcode scanning! yaampun…

Bahkan service di Indonesia pun bikin saya kaget hahah.. Saya sudah terbiasa dapat pelayanan buruk, sinis dan gak ngenakin saat di Singapur. Pas disini saya ngerasa bener-bener di hargai, di perhatikan sebagai customer dan ya yang melayani ramah banget! The best deh Indonesia kalau udah soal pelayanan ya

Tetap, pulang ke Indonesia saya happy banget, gak cuma saya anak saya pun seneng karena bisa kumpul lagi sama keluarga. Memang, kalau di depan mata terasa biasa aja tapi kalau sudah miles away for years, baru terasa kangennya sama keluarga. Tapi sebagai seseorang yang sering merantau, rumah bahkan bisa terasa asing ya 🙂

3 responses to “Pulang ke Indonesia, another culture shock?”

  1. wah senangnya skr balik Indo ya Manda, btw selamat atas kehamilannya semoga dilancarkan proses persalinannya nanti yaaa

  2. Terasa asing karena seseorang sudah absen lama mungkin sekali terjadi mba, hal yg normal….welcome home mbak. Tetap menulis ya semoga lancar

  3. Soal IMEI bener banget Manda, ngeselin kalo menurut aku si. Apalagi kayak aku kemarin cuma 2.5 minggu pulang kan ribet banget harus daftar2 segala. Rasanya cuma di Indo aza deh yang ada peraturan seperti itu buat hp. Ga praktis kalo menurut aku. Apalagi misalnya untuk orang2 yang datang untuk urusan bisni selama 5 hari misalnya, kan ga praktis.

    Kalo soal pelayanan aku malah merasa kasir2 di Indo thu lelet banget, lama banget proses satu penjualan aza 😝😝 Mungkin uda kebiasaan disini yang serba cepat ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: